Selasa, 15 Desember 2009

Tarif Konten Sulit Beranjak

VP Digital Music & Content Management Telkomsel Krishnawan Pribadi mengatakan, tarif konten relatif stabil jika dibandingkan dengan tarif layanan voice dan SMS yang semakin turun. Hal itu karena kehadiran layanan konten masih belum lama.

“Industri konten baru berkembang sekitar tiga tahun belakangan. Sementara bisnis core (voice dan SMS) sudah berlangsung selama 15 tahun,” katanya di Jakarta, kemarin. Ia mengungkapkan, saat kartu perdana pertama muncul harganya bisa mencapai Rp400 ribu. Dan 15 tahun kemudian kartu perdana harganya tinggal Rp10 ribu.

Sementara dari materi, masing-masing konten memiliki keunikan. “Jadi jika konten baru muncul, bukan berarti konten yang lama harganya akan turun,” jelasnya. Krish menilai dalam 3 tahun ke depan layanan konten masih akan terus berkembang.

Meskipun konten hanya menyumbang 3-4% dari revenue operator, namun di saat core bisnis sedang turun, konten malah tumbuh selama dua tahun belakangan ini. Tahun ini industri konten diperkirakan mencapai Rp2-2,2 triliun. Sementara tahun depan diperkirakan akan terjadi kenaikan 25-30%.

Krish menyebut beberapa alasan mengapa industri konten akan tumbuh. Dari sisi pelanggan selular sangat besar, sehingga pangsa pasarnya masih terbuka. Selain itu semua content provider (CP) bisa bermain. Baik itu CP dengan 100 karyawan atau yang hanya memiliki 3 karyawan saja bisa melakukan bisnis konten.

Sementara Indosat memperkirakan industri konten cerah tahun depan. Indosat memperkirakan konten akan tumbuh double digit. “Pertumbuhan industri konten tahun depan bisa naik dua digit, 15-20% di 2010,” kata Head of Marketing Indosat Teguh Prasetya saat dihubungi INILAH.COM.

Teguh mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan industri konten bisa tumbuh tahun depan. Infrastruktur yang memadai serta hasrat masyarakat yang semakin tinggi untuk online menjadikan permintaan konten meningkat.

Sementara kemampuan anak bangsa dalam mengembangkan layanan konten juga menjadi salah satu alasan mengapa industri konten akan tumbuh. Namun untuk urusan konten, Indosat lebih memilih untuk mengutamakan lokal dibandingkan konten luar. “Layanan konten lokal masih banyak yang bagus,” ujar Teguh.

Pengguna konten Indosat sendiri mencapai sekitar 40% dari total pelanggan. Sedangkan revenue yang didapat baru berkisar 4%, jauh dibandingkan layanan voice dan SMS.

Lalu apakah tarif konten akan turun? Teguh menyatakan tarif sangat market oriented. Makanya ada saja kemungkinan tarif layanan konten turun, agar bisa lebih banyak pengguna yang bisa menggunakan.

Bisnis konten sendiri sangat menguntungkan bagi content provider. Krishnawan Pribadi menyebut ARPU (average rate per user) konten Telkomsel mencapai Rp 5-7 ribu. Sementara tiap bulan ada 20 juta pelanggan yang mengakses layanan itu.

“Pembagian revenue antara CP dan operator dalan 40% sampai 60%. Pembagian itu tergantung dari kepopularan konten, jika makin popular maka bagian CP bisa mencapai 60%,” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar